Muncul Petisi Protes Penunjukan Nagita Slavina sebagai Duta PON XX Papua

Nagita Slavina. Foto: Dok. Ronny
Nagita Slavina ditunjuk sebagai Duta Pekan Olahraga Nasional (PON) XX Papua. Meski begitu, penunjukan duta ini menuai kontroversi. Sebab, sosok Nagita dinilai tidak mewakili Papua.

Salah satu protes pemilihan duta itu ditulis dalam sebuah petisi yang diunggah oleh Stephen Wally di change.org. Petisi itu berjudul 'Melawan Kultural Apropriasi pada PON XX Papua'.

Ia menuliskan petisi tersebut untuk memperjuangkan identitas dan budaya masyarakat Papua terkait penunjukan Nagita sebagai duta PON.

Menurut Stephen, Duta PON Papua seharusnya berasal dari Papua. Sebab, pemilihan Nagita tidak merepresentasikan perempuan Papua. Hal itu bisa menyebabkan Cultural Appropriation.

"Namun kami juga menilai bahwa sebaiknya identitas dan kehadiran Perempuan Papua tetap menjadi prioritas, sehingga perempuan Papua bisa menunjukkan eksistensi dan menjadi representasi budaya bangsa Indonesia yang beragam," tulisnya.

Berikut adalah versi lengkap petisi tersebut:

Melalui petisi ini, kami ingin memohon dukungan dari seluruh rakyat Indonesia, untuk memperjuangkan identitas dan eksistensi Budaya dan Manusia Papua.
Sebelumnya kami ingin menyampaikan beberapa hal :

1. Kami berterima kasih dan bangga atas kepercayaan yang diberikan kepada pemerintah dan masyarakat Papua untuk tetap menggelar kegiatan PON XX yang akan diselenggarakan di Papua pada tahun ini, meski pun dihadapkan pada banyak tantangan dan situasi yang kurang baik.

2. Kami pun berterima kasih kepada saudari kami Nagita Slavina, yang telah menyediakan diri untuk membantu promosi dan sosialisasi kegiatan PON XX Papua.
Namun demikian, kami rasa perlu untuk tetap menyuarakan aspirasi kami terkait penunjukan saudari kami Nagita Slavina sebagai ikon PON Papua. 

Kami melihat pelaksanaan Pekan Olahraga Nasional merupakan kegiatan yang sangat ideal sebagai agenda pemersatu bangsa dan menunjukkan keberagaman budaya kita. 

Sehingga kami merasa sebaiknya duta atau ikon PON Papua juga harus berasal dari Papua. Penunjukan saudari kami Nagita Slavina kami rasa sangat jauh dan tidak merepresentasikan eksistensi perempuan Papua sama sekali. Dan hal ini pada akhirnya dapat mendorong terjadinya Cultural Appropriation.

Dengan menempatkan Perempuan Papua sebagai duta maupun ikon pelaksanaan event Nasional di Tanah Papua, kami rasa dapat menjadi gestur yang baik terhadap kita semua sebagai anak bangsa, yang bisa melihat kecantikan dan kemandirian perempuan Papua untuk berdiri dan menjadi juru bicara bagi Tanah Papua sendiri.

Kami pun memahami, bahwa kehadiran Nagita Slavina pada pelaksanaan PON Papua ini ditujukan untuk mendorong sosialisasi PON Papua agar bisa sampai ke seluruh pelosok tanah air dan kami sangat menghormati dan tidak meragukan kapabilitas saudari kami Nagita Slavina.

Namun kami juga menilai bahwa sebaiknya identitas dan kehadiran Perempuan Papua tetap menjadi prioritas, sehingga perempuan Papua bisa menunjukkan eksistensi dan menjadi representasi budaya bangsa Indonesia yang beragam. Kami yakin ada banyak sekali tokoh perempuan Papua yang mempunyai kapabilitas untuk berdiri sebagai Duta atau pun Ikon PON XX Papua.

Melalui petisi ini, kami memohon dukungan dari seluruh rakyat Indonesia untuk mendorong panitia pelaksana mempertimbangkan kembali posisi duta atau pun ikon PON XX Papua untuk bisa ditempati oleh Perempuan Papua bersama-sama dengan Kakak Boaz Solossa.
Rakyat Indonesia, bantu kami membuktikan bahwa bangsa kita menghargai keberagaman.